Pages

Jan 2, 2014

Keluarkan Suaramu

Aku sering diam didalam keramaian. Jika kau tanya mengapa mungkin karena aku sedang enggan untuk bicara. Jika kau tanya kapan, entahlah aku tak bisa menjawabnya karena aku lebih sering terdiam. Aku diam namun bergerak. Bergerak macam apa yg dimaksud adalah bergeraknya pikiran didalam otak selalu menanyakan hal yang sama. "Akankahku tetap disini?". Pertanyaan untuk diri sendiri, malangnya aku pun masih bingung untuk menjawabnya. Akankah aku tetap diam seperti ini? diam membuat segalanya menjadi rumit.

Ketika pikiran ingin mengeluarkan kata-kata isyarat yang bisa dipahami, tapi mulut ini tidak bekerjasama. Mulut ini membuka tapi tak mengeluarkan suara. Terus apa guna Tuhan memberiku hal ini tapi tak bisa digunakan. Aku tetap tidak berani bertanya karena kata mereka inilah takdir Tuhan untukku tidak bisa diganggu gugat. Benarkah ini takdir yang Engkau ciptakan? Haruskahku marah atau senang akan hal ini? Entahlah toh aku juga tidak bisa mengucapkannya hal ini hanyak tersedak layaknya riak yang tak mau keluar dari kerongkongan. Hingga menjadi kanker stadium 1 namun sama mematikan layaknya stadium akhir. Berfikir layaknya manusia biasanya namun makhluk-makhluk kecil yang berlindung didalamnya terus mendesak untuk keluar. mereka seakan berteriak hal yang sama. "Keluarkan suaramu, bodoh". Mereka lebih pedas daripada yang punya raga. Ketika diamku tak bisa didiamkan lagi. Ketika pikiranku tak bisa dipikirkan lagi akankah ku tetap disini. Mungkin tidak mungki juga iya.

Aku lebih suka diam. Diam ketika dianggap sombong. Diam saat semua orang membicarakan kehidupan orang lain. Tapi aku juga ingin bicara. Aku ingin mengatakan semua yang ada di ubun-ubun, otak, mulut di seluruh tubuhku. Aku punya hak. Namun tak diberi olehNya. Kutanyakan kepada semua orang dalam diam.  Mencela dengan kata-kata kotor yang menjijikan pun tak bisa kubalas. Diam terlihat lebih bijak, bukan?
tapi orang bijak tidak pernah diam. Aku selalu diam. Kau meneriakkan nasibmu yang bengis dan tak tahu belas kasihan, aku merasa kagum karena hal itu dapat kau ungkapkan.
Diam belum tentu diam. Diam belum tentu setuju. Diam belum tentu menolak tapi diam adalah rahasia.